Kehebatan Bahasa Alqur'an Surat Annaba' Ayat 7 Secara Ilmiah
A.
Pengertian
I’jaz Alqur’an (Kemukjizatan Al-qur’an)
Secara etimologi, kata i’jaz adalah isim
mashdar dari kata a’jaza yu’jizu i’jazan yang mempunyai arti
ketidakberdayaan atau keluputan (naqd al-hazm). Kata i’jaz juga berarti
terwujudnya ketidakmampuan.
Secara epistemologi, kata i’jaz berarti :
penampakan kebenaran pengklaiman kerasulan dalam mengungkapkan ketidakmampuan
umatnya untuk menandingi. Atau, perbuatan seseorang pengklaim bahwa ia
menjalankan fungsi ilahiyah dengan cara melanggar ketentuan hukum alam dan
membuat orang lain tidak mampu melakukannya dan membuat orang lain bersaksi
atas kebenaran klaimnya.
Sedangkan kemukjizatan al-qur’an adalah :
suatu perkara yang luar biasa dari alqur’an yang disertai tantangan untuk
menirunya, selamat dari pengingkaran dan dibawa oleh diri nabi Muhammad SAW sebagai penguat dan untuk menyesuaikan
dakwahnya.
Alqur’an merupakan mukjizat terbesar yang
dikaruniakan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW yang tidak lekang oleh
waktu, dengan kata lain kemukjizatan alqur’an tampak dan berlaku hingga akhir
zaman. Hal ini disebabkan karena alqur’an mengarah pada pembukaan hati dan
penundukan akal karena itulah daya pengaruhnya lama dan bertahan. Selain itu,
kemukjizatan alqur’an bersifat abadi, berkelanjutan dan terjaga, karenanya
hingga hari ini masih banyak temuan-temuan tentang mukjizat alqur’an.
B.
Ruang Lingkup
I’jaz Qur’an.
1.
Segi bahasa
(i’jaz lughawiy)
Adapun
kemukjizatan alqur’an dari segi bahasa dapat dilihat dari kebahasaan yang
diungkapkan oleh alqur’an. alqur’an
telah mencapai tingkat yang tak pernah dicapai oleh bangsa manapun baik sebelum
maupun sesudah diturunkannya alqur’an . bangsa Arab merupakan bangsa yang
sangat mahir dalam menggunakan bahasa, bahkan mereka adalah orang-orang yang
memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa dicapai oleh orang lain seperti
bersyi’ir, khutbah, dan prosa. Oleh sebab itulah Allah SWT menantang mereka
untuk meniru keindahan alqur’an meskipun satu surat sebagai tantangan bagi
mereka dan bukti kebenaran Rasulullah SAW sebagai utusan.
Kemukjizatan
bahasa alqur’an dapat dilihat dari penggunaan makna (ma’ani), kesempurnaan
menyampaikan penjelasan (bayan), keindahan bahasa (badi’), stuktur bahasa yang
mengalahkan stuktur bahasa jahiliyin dan umat lainnya, dari surat, ayat,
kalimat hingga huruf tanpa ditemukan kesalahan, kekurangan dan cacat sedikitpun.
[1]
2.
Segi isyarat
ilmiah/ilmu pengetahuan (i’jaz ‘ilmiy)
Lebih dari seribu
ayat dalam alqur’an yang menceritakan fenomena alam seperti matahari, bulan,
bintang, langit, bumi, sungai, petir dan lain-lain. Bahkan, alqur’an mampu
melahirkan dan melingkup berbagai kajian bidang ilmu pengetahuan seperti ;
kajian biologi, geologi, fisika, kimia, matematika, anatomi, astronomi,
filsafat, sosiologi, arkeologi dan lain-lain.
Kemukjizatan
alqur’an dari segi isyarat ilmiah ini berguna untuk mendorong manusia berfikir
disamping membukakan ilmu pengetahuan dan mengajak mereka untuk memasukinya,
maju didalamnya, serta menerima ilmu pengetahuan baru yang mantap dan stabil
agar sempurna keimanan kepadaNya.
Jadi,
seharusnyalah ilmu pengetahuan yang tunduk kepada Alqur’an, bukan Alqur’an yang
harus tunduk dan mengikuti teori yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan, karena
Alqur’an berasal dari Dzat yang menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu
pengetahuan yang ditemukan selalu berada pada kekurangan dan sering diliputi
oleh kekaburan dan kesalahan.[2]
3.
Segi penetapan
syariat
Kemukjizatan
alqur’an sebagai wahyu Allah SWT dapat dilihat dari adanya penurunan syari’at
yang palin ideal bagi umat manusia, peraturannya yang paling lurus bagi
kehidupan dapat mengatur seluruh aspek kehidupan manusia maupun makhluk lainnya.
Meskipun secara kasat mata hukum alqur’an ada yang dipandang tidak adil dan
kejam, akan tetapi dibaliknya terdapat kesempurnaan hukum yang tak terhingga.
Adapun syari’at
yang diatur dalam alqur’an mencakup aqidah, akhlaq, ibadah, muamalah yang banyak
macamnya yang berguna untuk kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di
akhirat. Hubungan manusia dengan tuhanNya dan hubungannya dengan sesama maupun
hubungannya dengan alam semesta.
4.
Segi
pemberitaan gaib (i’jaz ghaibiy)
Banyak ayat yang
menceritakan perihal gaib dalam alqur’an. I’jaz ghaibiy ini mencakup keghaiban
masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
a.
Keghaiban masa
lampau / sejarah.
Menceritakan
sejarah masa lampau yang dapat dibuktikan kebenarannya. Contohnya proses
penciptaan langit dan bumi yang mulanya satu padu, kisah nabi Musa bersama
umatnya, nabi Yusuf AS dan kisah orang-orang durhaka pada zaman sebelum
diturunkannya Alquran.
b.
Keghaiban masa
kini.
Membuktikan
kebusukan hati para ahli kitab dan orang munafik yang bertingkah seakan baik
dihadapan Rasulullah SAW. Selain itu juga pembuktian hal yang tak dapat
dirasakan oleh manusia melalui panca indera seperti ruh, malaikat, jin dan
lain-lain.
c.
Keghaiban masa
akan datang.
Kemukjizatan
yang dapat dibuktikan setelah alqur’an itu diturunkan, apakah buktinya dapat
dilihat di dunia maupun di akhirat nanti seperti kemenangan bangsa romawi
melawan persia, fenomena kedatangan kiamat dan kejadian di kehidupan setelah
kehidupan di dunia.
Berita
ghaib ini tidak ada yang mengetahuinya selain Allah SWT dan orang-orang yang
dikehendaki oleh allah SWT.[3]
C.
Kemukjizatan
ayat kauniyah pada surat annaba’ ayat 7
وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا ﴿٧﴾
1.
Kemukjizatan
dari segi bahasa
a.
Makna perkata
وَ adalah huruf athaf atau kata penghubung.
ٱلْجِبَال adalah jamak dari kata جبل . adapun artinya adalah gunung.
Pada kamus almuhith,
makna jabal adalah sesuatu yang bergerak, segala pasak bumi yang besar dan
panjang, jika ia terpisah dan kecil maka namanya adalah bukit atau puncak. Pada
kamus mu’jamul wajiz, makna jabal adalah sesuatu yang tinggi dari permukaan
bumi, panjang dan tingginya melampaui bukit. Pada kamus alwasith, makna jabal
adalah . sedangkan menurut kamus besar
bahasa Indonesia, gunung adalah bukit yang sangat besar dan tingginya melebihi
600 m.
أَوْتَادًا adalah jamak dari وتد . Adapun artinya adalah pasak.
pada kamus mu’jamul wajiz makna watid adalah
sesuatu yang dikokohkan di dalam bumi atau dinding dari kayu, dan awtadnya
(pasaknya) bumi adalah gunung. Sedangkan pada kamus mu’jamul muhith watad/watid
bernakna sesuatu yang dirunjamkan ke bumi atau pagar dari kayu.
Kata
yang sesuai untuk menggambarkan gunung adalah “pasak” karena bagian terbesar
dari sebuah pasak tersembunyi di dalam tanah.
b.
Struktur kata
وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا merupakan ataf atau penghubung atau kata yang terhubung dengan
kata sebelumnya yaitu
ألم نجعل الأرض مهادا . sehingga bisa
dikatakan kalimat lengkap dari وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا adalah أَوَلَمْ نَجْعَلِ الجِبَالَ كالأَوْتَاد
لِلْأَرْضِ.
Menurut imam Ahmad Mushthafa
Almaraghi dalam kitabnya almaraghi menyatakan bahwa maksud dari ayat
tersebut adalah : و
جعلنا الجبال لها كالأوتاد كي لا تميل لأهلها. Pada kitab lain maksud ayat ini adalah أَرْسَيْنَاهَا بِالجِبَالِ كَمَا
يُرْسِيْ البَيْتَ بِالأَوْتَادِ.
Itulah
bukti kemukjizatan bahasa yang terdapat pada ayat tersebut. Allah SWT memilih
kalimat yang singkat, padat dan jelas meski tidak dijelaskan
berpanjang-panjang. Adapun istifham atau
kata Tanya yang terdapat pada ayat sebelumnya bukanlah bertujuan untuk mencari pemahaman,
ingin tau ataupun mengharapkan jawaban, melainkan untuk taqrir.[4]
2.
Kemukjizatan dari segi ilmu pengetahuan.
Menurut ahli tafsir :
a.
Menurut imam azzahiliy dalam kitab
tafsirnya alwajiz menyatakan bahwa tafsir dari ayat tersebut adalah : “Kami
jadikan gunung-gunung seperti pasak untuk menjaga keseimbangan gerakan bumi
agar ia tidak bergoncang.”[5]
b.
Menurut buya Hamka dalam karangan tafsirnya
al-azhar : “dijelaskan pada ayat itu kegunaan dari gunung. Jika gunung itu
tidak ada maka bumi tidak akan selamat dan tidak akan terbentang dengan baik. Karena
angin selalu berhembus keras dan akan membongkar urat kayu yang tumbuh sebagai
keperluan hidup. Dengan adanya gunung sebagai pancang, kokohlah hidup manusia.”[6]
c.
Menurut imam Jalaluddin bin Muhammad dan
imam Jalaluddin bin Abdurrahman dalam kitab tafsir mereka al-jalalain : “bumi
dikokohkan oleh gunung sebagaimana kemah dikokohkan oleh pasak”.
d.
Menurut imam ibnu Katsir dalam tafsirnya
menjelaskan : “bumi dan gunung menjadi pasak untuk menopang bumi sehingga tidak
mudah goyang.”
Kita pasti tahu bahwa
apapun yang Allah ciptakan pasti memiliki fungsinya masing-masing tanpa ada
kesia-siaan di dalamnya. Sebuah riset membuktikan bahwa lapisan terluar dari
dari bumi memiliki lempengan besar yaitu : Pacific, North America, South
America, African, Eurasian, Australia dan Antartika. Lempengan tersebut
memiliki pergeseran yang besar dan akan menyebabkan gempa bumi, sehingga Allah
SWT menjadikan gunung sebagai pasak bumi agar tidak keras tergoncang oleh
perpindahan lempeng tersebut dan perpindahan atau pergeserannya tetap stabil
dan terjaga.[7]
Istilah
ilmiah dari fungsi gunung ini adalah : isostasi
(kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan dibawah permukaan akibat tekanan
gravitasi).
Menurut Prof. Emiretus Frank Press
menyatakan bahwa gunung-gunung mempunyai akar di bawah mereka yang menghujam
dalam, sehingga seolah-olah gunung mempunyai bentuk bagaikan pasak. [8]
[2]
http://adruyan.blospot.co.id/2008/12/kemukjizatan-ilmiah-alqur’an.html?m=1
[3] Abdul ghani, I’jaz
fi lqur’an alkarim (dar alkitab aljami’ie :2012) hal. 280-288
[4] Jalaluddin bin Muhammad dan Jalaluddin bin Abdurrahman. Tafsir jalalain (alharamain:2007) hal. 249
[5] Ust. Dr. Wahbah azzahiliy, attafsir alwajiz ‘ala
hamisy alqur’an alkarim (damaskus: dar alfikr) hal. 587
Tidak ada komentar:
Posting Komentar