Senin, 05 Desember 2016

kemukjizatan qur'an yang tiada bandingan



 Kehebatan Bahasa Alqur'an  Surat Annaba' Ayat 7 Secara Ilmiah

A.    Pengertian I’jaz Alqur’an (Kemukjizatan Al-qur’an)
      Secara etimologi, kata i’jaz adalah isim mashdar dari kata a’jaza yu’jizu i’jazan yang mempunyai arti ketidakberdayaan atau keluputan (naqd al-hazm). Kata i’jaz juga berarti terwujudnya ketidakmampuan.
      Secara epistemologi, kata i’jaz berarti : penampakan kebenaran pengklaiman kerasulan dalam mengungkapkan ketidakmampuan umatnya untuk menandingi. Atau, perbuatan seseorang pengklaim bahwa ia menjalankan fungsi ilahiyah dengan cara melanggar ketentuan hukum alam dan membuat orang lain tidak mampu melakukannya dan membuat orang lain bersaksi atas kebenaran klaimnya.
      Sedangkan kemukjizatan al-qur’an adalah : suatu perkara yang luar biasa dari alqur’an yang disertai tantangan untuk menirunya, selamat dari pengingkaran dan dibawa oleh diri nabi Muhammad SAW  sebagai penguat dan untuk menyesuaikan dakwahnya.
      Alqur’an merupakan mukjizat terbesar yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW yang tidak lekang oleh waktu, dengan kata lain kemukjizatan alqur’an tampak dan berlaku hingga akhir zaman. Hal ini disebabkan karena alqur’an mengarah pada pembukaan hati dan penundukan akal karena itulah daya pengaruhnya lama dan bertahan. Selain itu, kemukjizatan alqur’an bersifat abadi, berkelanjutan dan terjaga, karenanya hingga hari ini masih banyak temuan-temuan tentang mukjizat alqur’an.
B.     Ruang Lingkup I’jaz Qur’an.
1.      Segi bahasa (i’jaz lughawiy)
            Adapun kemukjizatan alqur’an dari segi bahasa dapat dilihat dari kebahasaan yang diungkapkan oleh alqur’an.  alqur’an telah mencapai tingkat yang tak pernah dicapai oleh bangsa manapun baik sebelum maupun sesudah diturunkannya alqur’an . bangsa Arab merupakan bangsa yang sangat mahir dalam menggunakan bahasa, bahkan mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan bahasa yang tidak bisa dicapai oleh orang lain seperti bersyi’ir, khutbah, dan prosa. Oleh sebab itulah Allah SWT menantang mereka untuk meniru keindahan alqur’an meskipun satu surat sebagai tantangan bagi mereka dan bukti kebenaran Rasulullah SAW sebagai utusan.
            Kemukjizatan bahasa alqur’an dapat dilihat dari penggunaan makna (ma’ani), kesempurnaan menyampaikan penjelasan (bayan), keindahan bahasa (badi’), stuktur bahasa yang mengalahkan stuktur bahasa jahiliyin dan umat lainnya, dari surat, ayat, kalimat hingga huruf tanpa ditemukan kesalahan, kekurangan dan cacat sedikitpun. [1]
2.      Segi isyarat ilmiah/ilmu pengetahuan (i’jaz ‘ilmiy)
            Lebih dari seribu ayat dalam alqur’an yang menceritakan fenomena alam seperti matahari, bulan, bintang, langit, bumi, sungai, petir dan lain-lain. Bahkan, alqur’an mampu melahirkan dan melingkup berbagai kajian bidang ilmu pengetahuan seperti ; kajian biologi, geologi, fisika, kimia, matematika, anatomi, astronomi, filsafat, sosiologi, arkeologi dan lain-lain.
            Kemukjizatan alqur’an dari segi isyarat ilmiah ini berguna untuk mendorong manusia berfikir disamping membukakan ilmu pengetahuan dan mengajak mereka untuk memasukinya, maju didalamnya, serta menerima ilmu pengetahuan baru yang mantap dan stabil agar sempurna keimanan kepadaNya.
            Jadi, seharusnyalah ilmu pengetahuan yang tunduk kepada Alqur’an, bukan Alqur’an yang harus tunduk dan mengikuti teori yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan, karena Alqur’an berasal dari Dzat yang menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang ditemukan selalu berada pada kekurangan dan sering diliputi oleh kekaburan dan kesalahan.[2]
3.      Segi penetapan syariat
            Kemukjizatan alqur’an sebagai wahyu Allah SWT dapat dilihat dari adanya penurunan syari’at yang palin ideal bagi umat manusia, peraturannya yang paling lurus bagi kehidupan dapat mengatur seluruh aspek kehidupan manusia maupun makhluk lainnya. Meskipun secara kasat mata hukum alqur’an ada yang dipandang tidak adil dan kejam, akan tetapi dibaliknya terdapat kesempurnaan hukum yang tak terhingga.
            Adapun syari’at yang diatur dalam alqur’an mencakup aqidah, akhlaq, ibadah, muamalah yang banyak macamnya yang berguna untuk kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Hubungan manusia dengan tuhanNya dan hubungannya dengan sesama maupun hubungannya dengan alam semesta.
4.      Segi pemberitaan gaib (i’jaz ghaibiy)
            Banyak ayat yang menceritakan perihal gaib dalam alqur’an. I’jaz ghaibiy ini mencakup keghaiban masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
a.       Keghaiban masa lampau / sejarah.
Menceritakan sejarah masa lampau yang dapat dibuktikan kebenarannya. Contohnya proses penciptaan langit dan bumi yang mulanya satu padu, kisah nabi Musa bersama umatnya, nabi Yusuf AS dan kisah orang-orang durhaka pada zaman sebelum diturunkannya Alquran.
b.      Keghaiban masa kini.
Membuktikan kebusukan hati para ahli kitab dan orang munafik yang bertingkah seakan baik dihadapan Rasulullah SAW. Selain itu juga pembuktian hal yang tak dapat dirasakan oleh manusia melalui panca indera seperti ruh, malaikat, jin dan lain-lain.
c.       Keghaiban masa akan datang.
Kemukjizatan yang dapat dibuktikan setelah alqur’an itu diturunkan, apakah buktinya dapat dilihat di dunia maupun di akhirat nanti seperti kemenangan bangsa romawi melawan persia, fenomena kedatangan kiamat dan kejadian di kehidupan setelah kehidupan di dunia.
Berita ghaib ini tidak ada yang mengetahuinya selain Allah SWT dan orang-orang yang dikehendaki oleh allah SWT.[3]

C.     Kemukjizatan ayat kauniyah pada surat annaba’ ayat 7

وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا ﴿٧

1.      Kemukjizatan dari segi bahasa
a.       Makna perkata
وَ adalah huruf athaf atau kata penghubung.
ٱلْجِبَال adalah jamak dari kata جبل . adapun artinya adalah gunung.
      Pada kamus almuhith, makna jabal adalah sesuatu yang bergerak, segala pasak bumi yang besar dan panjang, jika ia terpisah dan kecil maka namanya adalah bukit atau puncak. Pada kamus mu’jamul wajiz, makna jabal adalah sesuatu yang tinggi dari permukaan bumi, panjang dan tingginya melampaui bukit. Pada kamus alwasith, makna jabal adalah   . sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, gunung adalah bukit yang sangat besar dan tingginya melebihi 600 m.

أَوْتَادًا adalah jamak dari وتد . Adapun artinya adalah pasak.
       pada kamus mu’jamul wajiz makna watid adalah sesuatu yang dikokohkan di dalam bumi atau dinding dari kayu, dan awtadnya (pasaknya) bumi adalah gunung. Sedangkan pada kamus mu’jamul muhith watad/watid bernakna sesuatu yang dirunjamkan ke bumi atau pagar dari kayu.
      Kata yang sesuai untuk menggambarkan gunung adalah “pasak” karena bagian terbesar dari sebuah pasak tersembunyi di dalam tanah.
b.      Struktur kata
وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا merupakan ataf atau penghubung atau kata yang terhubung dengan kata sebelumnya yaitu ألم نجعل الأرض مهادا .  sehingga bisa dikatakan kalimat lengkap dari وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا adalah أَوَلَمْ نَجْعَلِ الجِبَالَ كالأَوْتَاد لِلْأَرْضِ.
 Menurut imam Ahmad Mushthafa Almaraghi dalam kitabnya  almaraghi menyatakan bahwa maksud dari ayat tersebut adalah : و جعلنا الجبال لها كالأوتاد كي لا تميل لأهلها. Pada kitab lain maksud ayat ini adalah أَرْسَيْنَاهَا بِالجِبَالِ كَمَا يُرْسِيْ البَيْتَ بِالأَوْتَادِ.
      Itulah bukti kemukjizatan bahasa yang terdapat pada ayat tersebut. Allah SWT memilih kalimat yang singkat, padat dan jelas meski tidak dijelaskan berpanjang-panjang. Adapun  istifham atau kata Tanya yang terdapat pada ayat sebelumnya bukanlah bertujuan untuk mencari pemahaman, ingin tau ataupun mengharapkan jawaban, melainkan untuk taqrir.[4]

2.      Kemukjizatan dari segi ilmu pengetahuan.
Menurut ahli tafsir :
a.       Menurut imam azzahiliy dalam kitab tafsirnya alwajiz menyatakan bahwa tafsir dari ayat tersebut adalah : “Kami jadikan gunung-gunung seperti pasak untuk menjaga keseimbangan gerakan bumi agar ia tidak bergoncang.”[5]
b.      Menurut buya Hamka dalam karangan tafsirnya al-azhar : “dijelaskan pada ayat itu kegunaan dari gunung. Jika gunung itu tidak ada maka bumi tidak akan selamat dan tidak akan terbentang dengan baik. Karena angin selalu berhembus keras dan akan membongkar urat kayu yang tumbuh sebagai keperluan hidup. Dengan adanya gunung sebagai pancang, kokohlah hidup manusia.”[6]
c.       Menurut imam Jalaluddin bin Muhammad dan imam Jalaluddin bin Abdurrahman dalam kitab tafsir mereka al-jalalain : “bumi dikokohkan oleh gunung sebagaimana kemah dikokohkan oleh pasak”.
d.      Menurut imam ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan : “bumi dan gunung menjadi pasak untuk menopang bumi sehingga tidak mudah goyang.”
            Kita pasti tahu bahwa apapun yang Allah ciptakan pasti memiliki fungsinya masing-masing tanpa ada kesia-siaan di dalamnya. Sebuah riset membuktikan bahwa lapisan terluar dari dari bumi memiliki lempengan besar yaitu : Pacific, North America, South America, African, Eurasian, Australia dan Antartika. Lempengan tersebut memiliki pergeseran yang besar dan akan menyebabkan gempa bumi, sehingga Allah SWT menjadikan gunung sebagai pasak bumi agar tidak keras tergoncang oleh perpindahan lempeng tersebut dan perpindahan atau pergeserannya tetap stabil dan terjaga.[7]
            Istilah ilmiah dari fungsi gunung ini adalah : isostasi  (kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi  bebatuan dibawah permukaan akibat tekanan gravitasi).
Menurut Prof. Emiretus Frank Press menyatakan bahwa gunung-gunung mempunyai akar di bawah mereka yang menghujam dalam, sehingga seolah-olah gunung mempunyai bentuk bagaikan pasak. [8]


[1] Hatta Syamsuddin, Modul Mata Kuliah Ulumul Qur’an (Surakarta:2008) hal. 23-28
[2] http://adruyan.blospot.co.id/2008/12/kemukjizatan-ilmiah-alqur’an.html?m=1
[3] Abdul ghani, I’jaz fi lqur’an alkarim (dar alkitab aljami’ie :2012) hal. 280-288
[4] Jalaluddin bin Muhammad dan  Jalaluddin bin Abdurrahman. Tafsir jalalain (alharamain:2007) hal. 249
[5] Ust. Dr. Wahbah azzahiliy, attafsir alwajiz ‘ala hamisy alqur’an alkarim (damaskus: dar alfikr) hal. 587
[6] Dr. HAMKA, tafsir al-azhar. Hal. 3 pdf
[7] http://ayat-ayat-qur’an-yang-terbukti-yang-diterapkan-menjadi-ilmu.html?m=2
[8] http://gunung-sebagai-pasak-bukti-kebenaran-alqur’an.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar